×

Jurnal Footage's video: Kultursinema 3: Capturing The Lights

@Kultursinema #3: Capturing The Lights
Pada 1900-an, setelah gagasan akan sinema telah diserap oleh masyarakat Hindia-Belanda, sutradara bumiputera memberanikan diri untuk membuat filem mereka sendiri. Memproduksi representasi diri mereka sendiri. Tahun 1920-an hingga 1930-an menjadi periode awal bagaimana pengetahuan memproduksi gambar bergerak diserap oleh bumiputera, terutama kalangan orang kaya yang lebih memiliki akses untuk memperoleh teknologi dari Eropa tersebut. Ini lah yang diangkat di pameran Kultursinema . Kata “Bumiputra” di sini tidak merujuk pada satu ras atau suku tertentu, namun, pengertian Bumiputra di sini adalah orang-orang yang lahir dan tinggal di Hindia Belanda, lalu mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kelompok masyarakat di Hindia Belanda. Pameran ini membagi dua kelompok produksi filem: pertama filem komersil dan kedua adalah filem yang diproduksi untuk rumahan, non-komersil. Untuk filem komersil, di tahun 1930-an filem-filem fantasi siluman dan cerita rakyat Tiongkok lainnya sangat populer di Indonesia. Filem Tie Pat Kai Kawin (Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet) (1935) karya The Teng Chun, Gagak Item (1939) karya Wong Bersaudara, Matjan Berbisik (1940) karya Tan Tjoei Hock, dan Koeda Sembrani (1941) merupakan filem-filem tertua yang masih tersimpan di Sinematek Indonesia dan yang dapat mewakili periode sejarah sinema Indonesia. Orang-orang seperti The Teng Chun, Wong Brothers, dan Tan Tjoei Hock ini adalah para pemodal filem yang juga merangkap sebagai pembuat, dan mengkhususkan pada pasar penonton lokal, sehingga filem-filemnya menggunakan bahasa melayu. Mereka bisa dibilang merupakan pionir dari industri filem di Indonesia. Mereka secara langsung bersaing dengan filem-filem impor. Di produksi non-komersil ada produksi rumahan. Adalah seseorang bernama Kwee Zwan Liang, seorang kepala laboratorium pabrik gula di Djatipiring. Beliau merekam sejak tahun 1926 (bersamaan dengan kemunculan Loetoeng Kasaroeng) hingga 1937 tentang keseharian keluarganya hingga situasi di pabrik. Perekaman yang dilakukan Kwee Zwan Liang adalah sumber berharga untuk melihat bagaimana kultur di Hindia Belanda saat itu, di luar dari apa yang digambarkan di filem yang memiliki kepentingan komersil, maupun produksi kolonial. Filem-filemnya juga menambah khasanah untuk melihat secara detail bagaimana representasi kehidupan intim keluarga Peranakan Tionghoa, yang selama ini didominasi oleh representasi kehidupan orang-orang Eropa, khususnya Belanda, yang menetap di Hindia Belanda melalui filem-filem rumahan yang dibuat oleh mereka.

2

0
Jurnal Footage
Subscribers
3.8K
Total Post
313
Total Views
17.5K
Avg. Views
253
View Profile
This video was published on 2021-03-17 13:13:43 GMT by @Jurnal-Footage on Youtube. Jurnal Footage has total 3.8K subscribers on Youtube and has a total of 313 video.This video has received 2 Likes which are lower than the average likes that Jurnal Footage gets . @Jurnal-Footage receives an average views of 253 per video on Youtube.This video has received 0 comments which are lower than the average comments that Jurnal Footage gets . Overall the views for this video was lower than the average for the profile.Jurnal Footage #3. Kata has been used frequently in this Post.

Other post by @Jurnal Footage